Dalam bergulirnya waktu –seperti lautan, pasang surut gelombang perasaan pada setiap manusia hadir mengisi kehidupan yang dijalaninya. Ada kalanya ia meninggi dalam riak tanpa sebab, di lain waktu gelombang itu surut dan tenang mengalir menghampiri daratan. Tak ada yang tahu kapan perubahan itu terjadi kecuali sang pencipta tertinggi.
Dalam rangkaian istirahat panjang suatu malam, aku teringat akan sebuah kisah yang memunculkan seujuntai kalimat, “Hal termudah untuk mendapatkan cinta adalah dengan memberikannya, dan cara termudah untuk kehilangan adalah menggenggamnya terlalu erat…”. Kata-kata itu terus terngiang di telinga hingga kini. Membuat saya terus memikirkannya.
Memberi memang indah, berbagi selalu terasa nikmat, dan kebersamaan yang hadir, yang timbul akibat tindakan semacam itu adalah sebuah hal yang sulit dituliskan dengan kata-kata. Namun sayangnya, seringkali semua tindakan-tindakan itu dengan cepatnya berubah dalam sekejap saja akibat niat awal yang tanpa didasari keikhlasan. Dan memang, entah itu memberi, berbagi, atau bahkan menerima dengan ketidakikhlasan adalah berarti sia-sia. Sebuah perbuatan yang kerap menjadi cikal kekecewaan dalam setiap hubungan antar manusia yang di dalam dirinya terdapat rgelombang pasang surut perasaan tanpa henti dan mengalir tanpa irama.
Ketika seseorang takut akan kehilangan orang-orang yang disayanginya, sesungguhnya saat itulah ia berada dalam keadaan cinta terendah. Ketika nafsu memiliki begitu besar mengalahkan pikiran dan nalar yang dimiliki setiap manusia – yang sedianya hingga kini telah menyaksikan bahwa tiada yang abadi dalam hidup ini, menutup kemampuan kita melihat ke dalam diri bahwa segalanya akan pergi dan berganti bahkan termasuk diri kita sendiri… Ah! Bukankah pergantian itu adalah suatu hal lumrah dalam siklus kehidupan seumur ia bergulir?
Memang tak mudah menyiapkan diri untuk memberi dengan ikhlas, berbagi tanpa harap balas, menghargai sesuatu seperti apa adanya, namun ketika kita mampu melihat wujud sebuah ketidakpastian, semoga kita mampu mengerti bahwa cinta yang lebih besar sedang bermain diantara tindakan-tindakan kita. Cinta yang indah dalam tindakan nyata kita, cinta yang abadi dalam begitu adilnya Ia.
Dan meski keindahan cinta yang begitu besar hanya ada pada cintaNya, kerap pada manusia cinta luar biasa itu muncul pada insan-insan yang mampu menghadirkan dirinya pada kebahagiaan orang-orang yang disayangi. Kemampuan mereka berbahagia atas orang lain bahkan meski hal itu menusuk hati dan menimbulkan penderitaan pada dirinya telah memunculkan hadirnya pintu lain. Sebuah pintu yang mengantarkan perjalanan dirinya menuju alur dunia bahagia dimana tidak setiap orang berhak berada didalamnya. Hanya mereka yang mampu memunculkan keikhlasan dalam gerak laku dan tindakan nyatalah yang kemudian hadir pada dunia bahagia itu.
Ya memang! dan mungkin saja satu-satunya faktor sumber kebahagiaan dalam sebuah hubungan adalah keikhlasan. Hanya mereka yang ikhlaslah yang kelak mampu menatap dalam gelap, mampu terbang tanpa memiliki sayap, mampu berjalan dalam sesatnya tanpa kehilangan arah. Dan dunia bahagia yang mucul dalam keikhlasan sebuah tindakan itu sendiri bukan janji, tapi pasti! Selama seseorang mampu menatap jendela lain yang nampak dan mau menghampiri pintu terbuka baginya untuk dimasuki.
Keikhlasan… ia memang bukan apa-apa, namun bersamanya sebuah petualangan dalam gelombang pasang surut kehidupan dapat terasa begitu luar biasa.
selamat jalan, semoga kau di terima di sisiNya, Amin.........

0 komentar:
Posting Komentar
makacieh za dah sudi membaca coretan ku ini......